Hello Gorila…
Lama tak mendengar kabarmu, suaramu, nyanyianmu, tawamu, dan segala tentangmu.
Baru kemarin aku merasakan rindu itu datang kembali, cinta itu datang kembali,
saat hujan turun dengan beribu-ribu tetesan kenangan, menghidupkan ingatan, membasahi
pikiran, dan berlabuh dalam kesunyian.
Hujan yang ku nanti-nanti tiba, kemarin. Begitu deras. Sama
seperti apa yang aku rasakan. Deras. Rindu-ku padamu. Aku selalu menanti hujan,
karena saat itulah imajinasi ku bisa bermain denganmu. Karena hujan, membuat
aku dan kamu menjadi kita yang tertunda. Karena hujan, mengingatkan ku akan
semuanya, kenangan, keindahan, kesedihan, kesenangan, kesunyian, bahkan
kematian. Kematian kepura-puraan ku yang selalu aku sembunyikan. Pura-pura
melupakanmu, membencimu. Derasnya air hujan bisa menghanyutkan segala
kebencianku, seperti udara segar setelah hujan. Rinduku datang, menyergapku
dalam belenggu tentangmu.
Aku ingin tahu kabarmu, keadaanmu, segala tentangmu. Apa
kamu baik-baik saja? Aku tak tahu, dan tak pernah tau lagi sekarang. Saat kamu
menghapus kontakku di bbm. Sungguh, tak ada cara lagi untukku bisa mengetahui
tentangmu kini. Hanya lewat twitter kuburanmu aku bisa melihat tulisanmu,
bahasamu dalam tulisan, meski bukan untukku tapi aku selalu menanti dan menikmati.
Aku rindu. Rindu. Mungkin kamu tidak. Biarkan aku merasakan
rindu ini sendiri, biarkan sama seperti perasaanku yang hanya sendiri. Tanpa
kamu.
Kamu datang dan pergi semau-mu. Membuatku ketagihan untuk
berpetualang denganmu. Membiarkan yang ada untuk yang hilang. Sama seperti
membiarkan kebahagiaan hanya untuk meraih masa depan. Yang menyakiti malah yang
ada di hati. Merelakan yang menyayangi pergi dan menanti yang disayangi. Apa
itu salah? Mungkin iya, jawab pikiranku. Tapi tidak menurut hatiku. Biarkan
perasaanku mengambang, biarkan tak ada yang menang dalam perdebatan si pikiran
dan si hati. Biarkan seperti ini, menyelimuti setiap mimpi. Biarkan aku
menunggu, biarkan waktu yang menjawab, biarkan aku tahu seberapa jauh kamu
pergi, menghilang. Setidaknya, jika kamu pergi dan benar-benar pergi. Bawalah
kenangan dan ingatanku, jangan kamu titipkan dan simpan padaku. Bawa pergi dan
jangan kembali. Agar aku tak menanti. Agar aku tak tersakiti.