hilang, semua telah hilang kini. kebahagiaan, kehangatan, perhatian. hanya kesedihan yang kini selalu menemani. menemani setiap hentakan detak jantung, hembusan nafas, dan kedipan mata ini.
diam, kini hanya ada diam, tak berkutik, tak mampu berkata, tertunduk. tak ada lagi canda tawa.
air mata, jika dulu air mata adalah teman diam, kini mereka telah menjadi sahabat yang selalu ada dan saling melengkapi.
do'a, aku selalu mengucap namamu dalam setiap sujudku, menyerukan namamu dalam setiap doaku, menyentuhmu dengan untaian tasbih dalam jemariku, dan memelukmu dengan al-qur'an. jila dulu aku selalu mengeluh tentangmu kepada tuhan, kini aku sering meminta banyak hal tentangmu, dan kita.
pergi, semuanya telah pergi. pergi menjauh. tak disisiku lagi. tak menemaniku lagi. dan mungkin takkan kembali.
kenangan, kenangan yang menyebabkan air mata. dengan kenangan aku mampu terdiam, tersenyum, dan menangis. banyak hal yang kamu beri padaku, tentang cinta. bahkan terlalu banyak hingga air mataku pun mampu jatuh setiap saat, setiap aku mengingatmu, saat aku terdiam, tanpa teman, kesepian.
akankah kamu kembali? membawa kebahagiaan? tanpa kesakitan lagi? tanpa air mata? dan tanpa seorang wanita? hanya kebahagiaan?
dapatkah kamu mengembalikan senyumku lagi? menghapus air mataku? memperbaiki hatiku yang telah hancur olehmu? dan menjadi milikku?
tak perlu status, aku hanya perlu kamu yang sendiri, tanpa seorang wanita dibelakangmu. dan akupun akan begitu. hingga tak pernah ada kata berpisah diantara kita. aku dan kamu.
Senin, 17 Desember 2012
Selasa, 11 Desember 2012
seruanku untukmu
Pagi hari tadi, siluet wanita berparas manis menyelinap
dalam ujung mataku, menerkam hatiku dengan pisau yang telah siap mencabik-cabik
isi hatiku, dan membongkar kumparan air mataku.
Aku tak pernah bisa untuk menjadi wanita yang kuat dan tegar
saat wanita yang kamu cintai ada dihadapanku, tepat didepan batang hidungku,
berdiri, manis. Tertunduk, menangis, dan terdiam adalah balasan dariku.
Setiap hentakan langkahku, tak pernah lepas dari bayangan
tentangmu. Kamu dan dia, bagai sebuah film kisah cinta yang selalu aku putar
berulang-ulang dalam benakku.
Terkadang aku selalu bertanya dalam setiap doaku, memanggil
namamu dan berteriak. “kapan semua ini akan berakhir? Apakah akan terus seperti
ini? Tuhan, mengapa kau kirimkan dia dalam kehidupanku jika hanya untuk
membuatku mengeluh kepada-Mu? Jika harus aku pergi meninggalkannya, aku tak
mampu. Tapi, jika harus terus seperti ini pun aku tak sanggup. Aku tau engkau
memang mempunyai alasan yang terbaik dibalik semua ini. Jika dia memang baik
untukku, dekatkanlah. Dan jika memang dia bukan terbaik untukku, jauhkanlah. Jika
boleh aku meminta, aku ingin dia tetap denganku tanpa wanita itu. Hanya aku dan
dia.”
Langganan:
Postingan (Atom)