Pagi hari tadi, siluet wanita berparas manis menyelinap
dalam ujung mataku, menerkam hatiku dengan pisau yang telah siap mencabik-cabik
isi hatiku, dan membongkar kumparan air mataku.
Aku tak pernah bisa untuk menjadi wanita yang kuat dan tegar
saat wanita yang kamu cintai ada dihadapanku, tepat didepan batang hidungku,
berdiri, manis. Tertunduk, menangis, dan terdiam adalah balasan dariku.
Setiap hentakan langkahku, tak pernah lepas dari bayangan
tentangmu. Kamu dan dia, bagai sebuah film kisah cinta yang selalu aku putar
berulang-ulang dalam benakku.
Terkadang aku selalu bertanya dalam setiap doaku, memanggil
namamu dan berteriak. “kapan semua ini akan berakhir? Apakah akan terus seperti
ini? Tuhan, mengapa kau kirimkan dia dalam kehidupanku jika hanya untuk
membuatku mengeluh kepada-Mu? Jika harus aku pergi meninggalkannya, aku tak
mampu. Tapi, jika harus terus seperti ini pun aku tak sanggup. Aku tau engkau
memang mempunyai alasan yang terbaik dibalik semua ini. Jika dia memang baik
untukku, dekatkanlah. Dan jika memang dia bukan terbaik untukku, jauhkanlah. Jika
boleh aku meminta, aku ingin dia tetap denganku tanpa wanita itu. Hanya aku dan
dia.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar